Advertorial
Trending

Dinkes Banten Ajak Masyarakat Waspadai Stroke, Penyakit Penyebab Kematian Tertinggi di Indonesia

SERANG,  – Dinas Kesehatan Provinsi Banten mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai penyakit stroke yang menjadi salah satu penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr. Ati Pramudji Hastuti, menegaskan bahwa pencegahan dan pengendalian stroke perlu dilakukan sejak dini, terutama bagi masyarakat berusia di atas 40 tahun yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes melitus.

“Stroke bukan penyakit yang datang tiba-tiba. Dengan mengenali gejalanya dan menjaga pola hidup sehat, kita bisa menekan angka kejadian dan dampak fatalnya,” ujar Ati di Serang, Senin (20/10/2025).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Banten, hingga September 2025 tercatat sebanyak 4.456 kasus stroke di wilayah Banten. Angka ini menunjukkan pentingnya upaya bersama dalam meningkatkan kesadaran dan tindakan preventif terhadap penyakit tidak menular tersebut.

Ati menjelaskan, stroke terjadi akibat terganggunya aliran darah ke otak karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Kondisi ini menyebabkan sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi, sehingga fungsi otak bisa terganggu secara permanen.

“Pencegahan bisa dilakukan dengan langkah sederhana seperti mengontrol tekanan darah, menjaga kadar gula dan kolesterol, berhenti merokok, rutin berolahraga, serta menjaga pola makan sehat,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengenali gejala stroke dengan prinsip FAST (Face, Arm, Speech, Time).

“Jika wajah mulai mencong, lengan melemah, atau bicara menjadi pelo, jangan tunggu lama—segera bawa ke rumah sakit karena penanganan cepat dalam waktu emas 3 sampai 4,5 jam bisa menyelamatkan jaringan otak,” tegasnya.

Selain pencegahan, Dinkes Banten juga terus memperkuat program pengendalian stroke sebagai bagian dari indikator Program Penyakit Tidak Menular (PTM) dalam RPJMN 2025–2029. Target nasional skrining stroke di Banten ditetapkan sebanyak 536.341 orang atau 50% dari total penyandang diabetes melitus dan/atau hipertensi berusia di atas 40 tahun.

“Kami mendorong masyarakat untuk aktif mengikuti skrining kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Deteksi dini adalah langkah penting agar pengobatan bisa dilakukan sebelum terlambat,” tambah Ati.

Ia juga menekankan bahwa menjaga kesehatan otak sama pentingnya dengan menjaga jantung.

“Ingat, lebih baik mencegah daripada mengobati. Jaga tekanan darah, pola makan, dan kesehatan otak Anda,” tutupnya. (Adv)

jasa website murah

Berita Terkait

Back to top button
Djawara News