BantenKota Serang

Menyalakan Obor di Ujung Lisan dan Laku

Ocit Abdurrosyid Siddiq Ketua Bidang Kaderisasi dan SDM Pengurus Besar Mathla'ul Anwar

KOTA SERANG, djawaranews.com – Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Selasa, 10 Februari 2026, hari ini tak lagi sekadar ruang fisik. Ia bertransformasi menjadi ruang dialektika ruhani. Gema suara memang telah surut seiring berakhirnya acara, namun resonansi maknanya justru baru mulai bergetar di dada setiap utusan, baik dari perguruan maupun pengurus wilayah.

Duduk sejenak melepas penat pasca-acara, saya dalam kapasitas sebagai Ketua Bidang Kaderisasi dan SDM PBMA merenung. Peristiwa hari ini merupakan manifestasi nyata dari apa yang kerap kita diskusikan dalam ruang-ruang filsafat: bahwa esensi mendahului eksistensi, namun eksistensi menuntut pembuktian.

Ketua Umum PBMA, Kiai Embay Mulya Syarief, dengan ketajaman khasnya, menusuk jantung kesadaran kita semua. Beliau menegaskan sebuah kaidah ontologis bagi seorang juru dakwah: kefasihan bicara hanyalah ornamen, sedangkan substansinya adalah keteladanan.

Dalam bahasa hikmah yang dahulu akrab di bangku kuliah, lisan al-hal afsah min lisan al-maqal. Bahwa bahasa tindakan jauh lebih fasih, lebih tajam, dan lebih merasuk dibanding bahasa lisan. Dai Mathla’ul Anwar tidak dicetak untuk menjadi sophist yang piawai bersilat lidah, melainkan filosof-praktis yang membumikan wahyu melalui perilaku nyata.

Kehadiran Kepala Kanwil Kemenag Banten, Bapak Amrullah, semakin menegaskan posisi strategis Mathla’ul Anwar. Ini adalah momentum eksistensial: Mathla’ul Anwar bukan sekadar nama dalam catatan sejarah, tetapi entitas yang hidup, bernapas, dan memberi warna bagi birokrasi langit maupun bumi di Tanah Banten.

Energi para peserta tampak meluap saat menyimak paparan Bapak Jazuli Juwaeni, Prof. Syibli Sarjaya, dan Kiai Zaenal Abidin Sujai. Ketiganya tidak sekadar menyampaikan materi, melainkan menuangkan minyak ke dalam lampu para dai. Bekal untuk terjun ke pelosok negeri bukan hanya hafalan dalil, tetapi kebijaksanaan membaca peta sosiologis umat.

Di sinilah irisan tugas kaderisasi menjadi nyata.

Sebagai penanggung jawab bidang kaderisasi, saya memandang helatan yang digagas Panitia Muktamar di bawah komando Saudara Asep Rahmatullah ini sebagai sebuah overture pembuka yang megah dan harmonis. Ia menjadi pemanasan mesin organisasi yang brilian dalam menyongsong Muktamar XXI pada April mendatang di Serang. Jika pemanasannya saja sudah sehangat ini, dapat dibayangkan betapa berkobarnya api semangat di bulan pelaksanaan nanti.

Saya juga menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada pemangku hajat, Ketua Bidang Dakwah PBMA, DR. Ahmad Hasani Said. Beliau tidak hanya piawai dalam pengemasan teknis acara, tetapi juga berhasil mentransfer “ruh” dakwah. Beliau mengajarkan bahwa mengelola dakwah adalah sebuah seni: seni menularkan cahaya tanpa membakar, seni menjadi obor yang menerangi jalan pulang tanpa menyilaukan mata.

Hari ini, kita tidak sekadar membagikan sertifikat. Kita sedang menanam benih peradaban. Para kader kita pulangkan ke basis masing-masing bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan dada yang penuh. Penuh kesadaran bahwa mereka adalah agen Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang berwajah ramah, merangkul, dan mampu “nyaangan obor sorangan” untuk kemudian menerangi semesta.(Trg)

jasa website murah

Berita Terkait

Back to top button
Djawara News