YOGYAKARTA,Djawaranews.com – Di tengah transformasi digital industri asuransi, pemanfaatan data dan kolaborasi lintas institusi menjadi fondasi penting dalam membangun sistem perlindungan publik yang lebih responsif, efisien, dan berkelanjutan.
Pandangan tersebut disampaikan Direktur Utama PT Jasa Raharja (Persero), Muhammad Awaluddin, saat menjadi salah satu pembicara utama dalam The Forum 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI) di Yogyakarta, Kamis (6/8/2026).
-
-
Harwan Muldidarmawan Paparkan Peran Compliance dan Ethics sebagai Kunci Keberlanjutan Organisasi di Universitas Gadjah MadaYOGYAKARTA – Penerapan compliance dan ethics yang berjalan secara terintegrasi menjadi fondasi utama dalam membangun tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) serta mendorong keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang. Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko PT Jasa Raharja, Harwan Muldidarmawan, dalam kuliah tamu pada mata kuliah Business Ethics for Sustainability untuk kelas MBA/IMBA Angkatan 87, Program Studi Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM). Agenda tersebut diselenggarakan di Faculty Meeting Room (FMR) MBA FEB UGM Kampus Yogyakarta, pada (31/03/2026). Dalam pemaparannya, Harwan menyampaikan bahwa penerapan prinsip etika bisnis dan kepatuhan tidak hanya berhenti pada pemenuhan aspek regulatif, tetapi juga terintegrasi dalam proses bisnis dan pengambilan keputusan di seluruh lini organisasi. Pendekatan ini turut diperkuat melalui pengelolaan risiko yang terukur serta pembangunan budaya perusahaan yang menjunjung tinggi integritas dan akuntabilitas. “Kepatuhan terhadap regulasi yang dijalankan dengan penuh amanah, disertai strategi manajemen yang tepat, tidak hanya memastikan operasional perusahaan berjalan sesuai ketentuan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik sebagai aset utama perusahaan,” ujarnya. Lebih lanjut, Harwan menekankan bahwa bagi perusahaan yang bergerak di sektor layanan publik, keberhasilan dalam menjaga keseimbangan antara kepatuhan, etika, dan kinerja menjadi kunci dalam menghadirkan layanan yang berkelanjutan. “Selain itu juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” tambahnya. Dalam penyampaianya, Harwan juga memaparkan bahwa PT Jasa Raharja menempatkan etika sebagai fondasi utama dalam seluruh kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC), tidak hanya sebagai pemenuhan aturan, tetapi sebagai kompas moral dalam setiap pengambilan keputusan. Hal ini diwujudkan melalui penerapan Code of Conduct, penguatan budaya integritas dengan prinsip zero tolerance to fraud, serta integrasi etika dalam proses bisnis, layanan, dan pengelolaan risiko. Pendekatan ini juga didukung oleh sistem digital seperti ekosistem GRC dan JRCare yang menjamin transparansi, akuntabilitas, serta kecepatan layanan kepada masyarakat. Sebagai perusahaan yang mengemban amanah publik, Jasa Raharja memastikan bahwa setiap pengelolaan dana dan pelayanan santunan dilakukan 2 secara adil, inklusif, dan bertanggung jawab, sehingga mampu membangun kepercayaan publik dan menjaga keberlanjutan layanan secara jangka panjang. Hal ini dibuktikan dengan kinerja keuangan Perusahaan yang solid, bahkan saat menghadapi pandemi Covid-19, dan pengakuan publik yang tercermin melalui berbagai penghargaan di tingkat nasional maupun internasional yang diterima MBA FEB UGM Kampus Yogyakarta, Prof. Amin Wibowo, Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Harwan Muldidarmawan. Ia menyampaikan bahwa kehadiran praktisi dalam perkuliahan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh first-hand experience terkait implementasi Business Ethics for Sustainability di dunia industri. “Terima kasih atas perkenan Bapak Harwan hadir dan mengisi kelas kali ini, menjadi bekal penting bagi Mahasiswa UGM karena berkesempatan untuk bertemu dalam satu forum Business Ethics for Sustainability, di mana mahasiswa dapat belajar secara langsung dari praktik yang dilakukan oleh Jasa Raharja,” ujar beliau. Lebih lanjut, Prof. Amin menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi dan praktisi menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran di MBA FEB UGM. Menurutnya, program MBA tidak hanya membekali mahasiswa dengan pemahaman konseptual, tetapi juga menghadirkan perspektif praktik nyata melalui kehadiran para profesional sebagai guest lecturer. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi teori, tetapi juga dari pengalaman langsung di dunia kerja yang selama ini tidak selalu dapat diperoleh di ruang kelas. Kegiatan kuliah tamu yang dimoderatori oleh dosen FEB UGM, Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., ini diikuti 57 peserta. Turut hadir Guru Besar FEB uGM, Prof. Eko Suwardi, MSc., Ph.D. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan partisipasi aktif mahasiswa. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi melalui berbagai pertanyaan dan diskusi kritis yang mengulas isu-isu etika bisnis dan keberlanjutan, baik dari perspektif konseptual maupun praktik di lapangan
7 April 2026
-
Dalam forum bertema The Role of Insurance Ecosystems: Connecting with Customers in New Ways itu, ia memaparkan bagaimana Jasa Raharja membangun ekosistem perlindungan yang terintegrasi. Inosiatif itu menjadi model layanan yang menempatkan masyarakat sebagai pusat dari setiap proses perbaikan (center of improvement).
Pada sesi panel Embedded Insurance & Ecosystem Partnerships: From Product to Experience, Awaluddin menjelaskan bahwa perlindungan dasar bagi korban kecelakaan lalu lintas merupakan wujud nyata kehadiran negara. Sehingga harus mampu memberikan akses layanan kesehatan dan penanganan secara cepat, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“Customer harus menjadi center of improvement. Setiap integrasi sistem, setiap inovasi digital, dan setiap penyederhanaan proses harus bermuara pada satu tujuan, yaitu menghadirkan pengalaman layanan yang lebih baik bagi masyarakat. Data membantu kami memahami kebutuhan pelanggan secara lebih utuh, sehingga perbaikan layanan dapat dilakukan secara berkelanjutan,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa transformasi layanan Jasa Raharja selama beberapa tahun terakhir dibangun di atas fondasi integrasi data secara real-time. Melalui kolaborasi dengan Korlantas Polri, pemerintah daerah, rumah sakit, dan berbagai institusi lainnya. Proses penjaminan biaya perawatan hingga pembayaran santunan pun dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan minim hambatan administratif.
Menurut Awaluddin, data bukan lagi sekadar instrumen pendukung operasional, melainkan menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan, perbaikan proses, serta pengembangan layanan yang lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. “Konsep tersebut sejalan dengan arah transformasi industri perasuransian global yang semakin mengedepankan pendekatan berbasis ekosistem.
Di mana perlindungan tidak lagi berdiri sebagai produk yang terpisah, tetapi menjadi bagian dari pengalaman layanan publik yang terintegrasi,” jelas Awaluddin. Dalam paparannya, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi sebagai fondasi pembangunan insurance ecosystem di Indonesia. Integrasi data, interoperabilitas sistem, serta penyelarasan proses bisnis antar-lembaga menjadi faktor kunci dalam menciptakan perlindungan yang cepat, tepat, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Forum AAMAI 2026 mempertemukan regulator, pelaku industri, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas arah transformasi industri perasuransian Indonesia di era digital. Termasuk pengembangan embedded insurance, open insurance, pemanfaatan real-time data, dan peningkatan pengalaman pelanggan melalui kolaborasi ekosistem.
Partisipasi Jasa Raharja dalam forum tersebut menjadi salah satu wujud komitmen perusahaan untuk terus memperkuat perlindungan dasar bagi masyarakat melalui inovasi layanan, transformasi digital, dan sinergi lintas institusi. Sehingga, kehadiran negara dapat dirasakan secara nyata oleh setiap korban kecelakaan lalu lintas di seluruh Indonesia.(Red)