Opini

Mengapa Orang Vietnam Sulit Dibaca?

Oleh: Engkus Kuswarno (Profesor Komunikologi UNPAD)

Ketika pertama kali mengunjungi Vietnam, ada satu kesan yang langsung muncul bahkan sebelum memahami budaya, sejarah, atau makanannya bahasa Vietnam terdengar sangat berbeda di telinga orang Indonesia.

Bagi sebagian orang Sunda dan Banten, percakapan orang Vietnam terdengar lebih tinggi nadanya, cepat, dan kadang-kadang terkesan “cempreng”. Tentu istilah ini bukan penilaian negatif, melainkan kesan fonetis yang muncul ketika telinga Sunda yang terbiasa dengan intonasi lembut dan turun-naik khas Parahyangan mendengar bahasa tonal seperti Vietnam.

Namun semakin lama berada di sana, semakin tampak bahwa suara, tulisan, kendaraan, bahkan cara mereka menyebut taksi sesungguhnya adalah simbol dari identitas nasional yang sangat kuat.

Vietnam bukan hanya negara yang pernah berperang melawan Amerika Serikat. Vietnam adalah negeri yang berbicara dengan caranya sendiri, menulis dengan caranya sendiri, dan kini sedang membangun kepercayaan dirinya dengan caranya sendiri.

Ketika Bahasa Vietnam Terdengar “Cempreng”

Secara linguistik, bahasa Vietnam termasuk rumpun Austroasiatik, berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, bahasa Banten yang termasuk rumpun Austronesia. Perbedaan paling mencolok adalah sistem nada (tone). Dalam bahasa Indonesia, kata yang sama akan memiliki arti yang sama meskipun diucapkan dengan nada berbeda. Dalam bahasa Vietnam tidak demikian.

Satu suku kata yang sama dapat memiliki arti berbeda bergantung tinggi-rendah nada pengucapannya. Misalnya bunyi “ma” dapat memiliki berbagai arti hanya karena perubahan nada. Akibatnya, percakapan orang Vietnam terdengar seperti rangkaian bunyi yang naik-turun secara cepat.

Bagi telinga Sunda dan Banten yang terbiasa dengan ritme percakapan yang lebih datar dan lembut, kesannya sering terdengar lebih nyaring dan tinggi. Menariknya, orang Vietnam kemungkinan merasakan hal yang sama ketika mendengar orang Sunda atau Banten berbicara.

Mereka mungkin menganggap bahasa Sunda atau Banten terlalu lembut, terlalu lambat, atau terlalu banyak menggunakan ekspresi emosional dalam intonasi. Dalam komunikasi lintas budaya, tidak ada suara yang lebih baik atau lebih buruk. Yang ada hanyalah kebiasaan akustik yang berbeda.

Benarkah Orang Indonesia Berasal dari Vietnam?

Pertanyaan ini sering muncul ketika melihat kedekatan geografis Asia Tenggara. Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Menurut berbagai teori migrasi Austronesia yang saat ini paling banyak diterima, leluhur mayoritas penduduk Indonesia bukan berasal dari Vietnam, melainkan berasal dari Taiwan bagian selatan yang kemudian bergerak ke Filipina dan menyebar ke Nusantara sekitar 4.000–5.000 tahun lalu.

Sebaliknya, masyarakat Vietnam modern sebagian besar berasal dari kelompok etnis Viet (Kinh) yang berkembang di wilayah utara Vietnam dan memiliki sejarah panjang interaksi dengan kebudayaan Tiongkok.

Namun hubungan Nusantara dan Vietnam sangat tua. Jalur perdagangan maritim Asia Tenggara telah menghubungkan kedua wilayah selama ribuan tahun. Pedagang, pelaut, dan komunitas pesisir saling berinteraksi jauh sebelum lahirnya negara modern Indonesia maupun Vietnam. Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa Indonesia dan Vietnam adalah tetangga tua dalam peradaban Asia Tenggara, bukan satu berasal dari yang lain.

Memesan Taksi dengan Kata “Grab”

Salah satu fenomena menarik di Vietnam adalah penggunaan nama merek sebagai nama jenis layanan. Ketika ingin memesan kendaraan, banyak orang mengatakan “Grab!”. Padahal tersedia juga berbagai layanan lain.

Fenomena ini mengingatkan kita pada Indonesia. Di banyak daerah, masyarakat masih menyebut sepeda motor sebagai “Honda.” meskipun kendaraan yang dipakai sebenarnya Yamaha, Suzuki, Kawasaki, atau merek lain. Begitu pula di beberapa daerah, masyarakat menyebut kendaraan niaga atau angkot dengan istilah tertentu yang sebenarnya adalah nama merek.

Dalam ilmu semiotika, fenomena ini disebut genericization, yaitu ketika merek dagang berubah menjadi simbol umum suatu produk atau layanan. Merek tidak lagi hanya identitas perusahaan. Ia berubah menjadi bahasa sehari-hari.

Di Vietnam, “Grab” sering kali tidak lagi sekadar aplikasi. Ia telah menjadi simbol aktivitas memesan kendaraan.

Negeri yang Sulit Dibaca

Banyak wisatawan Indonesia mengalami pengalaman yang sama ketika pertama kali tiba di Vietnam. Mereka tiba-tiba merasa buta huruf. Tulisan Vietnam menggunakan alfabet Latin seperti Bahasa Indonesia. Akan tetapi hampir setiap kata dipenuhi tanda diakritik yang asing  ă, â, ê, ô, ơ, ư, ả, ã, ạ, dan sebagainya. Sekilas tampak seperti huruf yang kita kenal. Namun ketika dibaca, bunyinya sama sekali berbeda.

Inilah paradoks Vietnam. Tulisan terlihat akrab. Tetapi maknanya tidak dapat ditebak. Misalnya ketika mencari toilet umum. Alih-alih menemukan tulisan “Toilet” atau “Restroom”, yang sering muncul adalah Nhà vệ sinh, yang secara harfiah berarti “ruang sanitasi” atau “kamar kebersihan”.

Bagi wisatawan Indonesia, tulisan itu nyaris tidak memberi petunjuk apa pun. Kita baru memahami maksudnya ketika melihat simbol laki-laki dan perempuan di pintunya. Di sinilah gambar mengalahkan bahasa. Simbol menjadi penyelamat komunikasi lintas budaya.

Ketika Bahasa Inggris Tidak Banyak Menolong

Berbeda dengan Singapura atau Malaysia, penggunaan bahasa Inggris di ruang publik Vietnam relatif terbatas, terutama di luar kawasan wisata internasional. Banyak papan informasi, petunjuk jalan, menu restoran, hingga layanan publik hanya menggunakan bahasa Vietnam. Bahkan dalam percakapan sehari-hari, tidak sedikit warga yang tidak nyaman menggunakan bahasa Inggris.

Bagi wisatawan Indonesia, kondisi ini memunculkan fenomena menarik teknologi penerjemah menjadi penyambung hidup. Satu aplikasi penerjemah di telepon genggam dapat mengubah kalimat Bahasa Indonesia menjadi tulisan Vietnam dalam hitungan detik.

Percakapan yang dahulu membutuhkan penerjemah manusia kini cukup dilakukan dengan saling memperlihatkan layar ponsel. Teknologi akhirnya menjadi jembatan ketika bahasa gagal menjembatani manusia.

Surga Duren dengan Harga yang Membingungkan

Vietnam juga merupakan surga bagi pencinta durian. Menariknya, sebagian besar durian premium yang populer sebenarnya berasal dari varietas Monthong Thailand. Namun di Vietnam, durian tersebut dapat ditemukan dengan harga yang sering kali lebih murah dibandingkan harga di Bandung.

Bagi wisatawan Indonesia, pengalaman membeli durian di Vietnam sering menghasilkan kebingungan lain: angka harga yang sangat besar. Bukan karena mahal, melainkan karena mata uang Vietnam menggunakan satuan Dong (VND) dengan nominal yang sangat tinggi.

Seseorang dapat memegang uang ratusan ribu bahkan jutaan Dong hanya untuk transaksi sehari-hari. Secara psikologis terasa seperti menjadi jutawan. Padahal nilai tukarnya masih jauh di bawah Rupiah Indonesia. Akibatnya wisatawan Indonesia sering mengalami kejutan budaya ketika pertama kali menghitung harga dalam Dong.

VinFast: Mobil sebagai Simbol Nasionalisme

Jika Indonesia memiliki kebanggaan terhadap produk-produk nasional tertentu, Vietnam saat ini memiliki simbol yang sangat jelas: VinFast. Di kota-kota besar Vietnam, sangat mudah menemukan kendaraan VinFast. Banyak armada taksi menggunakan mobil merek tersebut.

Bahkan mobil listrik VinFast semakin mendominasi jalan-jalan perkotaan. Fenomena ini bukan hanya pilihan ekonomi. Ini adalah pernyataan identitas nasional. Vietnam ingin menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menjadi pasar bagi produk asing. Mereka ingin menjadi produsen teknologi modern.

Lebih menarik lagi, investasi VinFast kini telah menjangkau Indonesia, termasuk pembangunan fasilitas manufaktur di kawasan Subang, Jawa Barat. Hubungan ekonomi Indonesia-Vietnam tidak lagi hanya perdagangan hasil pertanian atau perikanan. Kini hubungan itu bergerak menuju industri teknologi dan kendaraan listrik.

Indonesia Lebih Percaya Diri?

Ada satu kesan yang sering muncul ketika membandingkan Indonesia dan Vietnam. Indonesia tampak lebih nyaman menggunakan campuran bahasa lokal, bahasa nasional, dan bahasa asing. Orang Indonesia relatif mudah menyelipkan kata Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Sebaliknya, Vietnam cenderung mempertahankan penggunaan bahasa nasional secara dominan. Hampir semua ruang publik menggunakan bahasa Vietnam. Bukan karena menolak globalisasi. Melainkan karena memiliki kepercayaan diri tinggi terhadap bahasa sendiri.

Paradoksnya, Indonesia lebih kosmopolit dalam penggunaan bahasa, sementara Vietnam lebih nasionalis dalam ekspresi linguistik. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing.

Membaca Vietnam Melalui Simbol

Pada akhirnya, Vietnam tidak dapat dipahami hanya melalui statistik ekonomi atau sejarah perang. Vietnam lebih mudah dipahami melalui simbol-simbol kesehariannya suara bahasa yang naik-turun, tulisan yang tampak akrab tetapi sulit dibaca, kata “Grab” yang menjadi nama semua taksi daring, papan petunjuk yang hanya berbahasa Vietnam, durian Monthong yang murah, jutaan Dong di dompet, dan mobil VinFast yang melintas hampir di setiap sudut kota.

Semua itu menunjukkan satu hal Vietnam merupakan bangsa yang sedang membangun modernitas tanpa kehilangan identitasnya. Mereka membuka diri terhadap dunia, tetapi tetap berbicara dengan bahasa mereka sendiri. Mereka menerima teknologi global, tetapi mengendarai mobil buatan negaranya sendiri.

Bagi orang Indonesia yang datang berkunjung, Vietnam memberikan pelajaran menarik. Kadang-kadang untuk memahami sebuah bangsa, kita tidak perlu memulai dari pidato para pemimpinnya. Cukup dengarkan cara mereka berbicara, lihat tulisan di toilet umum, dan perhatikan mobil yang mereka banggakan di jalan raya. Di situlah budaya sesungguhnya sedang berbicara.

Back to top button
Djawara News